- " The Secret of Success behind The Music Industry " diselenggarakan oleh BEM Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma. Depok, 23 November 2010
- " Indonesia Islamic Bank Outlook 2012 " diselanggarakan oleh Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma. Depok, 25 Februari 2012
- " Prophetic Entrepreneurship " diselenggarakan oleh Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma. depok, 23 februari 2012
- " Student Conference for Sharia Economic 2012 " diselenggarakan oleh Sharia Economic Forum Universitas Gunadarma. Depok, 24 Februari 2012
- " Menyibak Peranku Kini Menurut PerintahNYA " diselenggarakan oleh UKM FAJRUL ISLAM UNIVERSITAS GUNADARMA
- Workshop " Amazing Presentation " diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Manajemen dan Akuntansi. Depok, 03 agustus 2012
Rabu, 03 April 2013
SEMINAR DAN WORKSHOP
Senin, 01 April 2013
Artikel PERBANKAN
Alamandra Inca
10210488
3EA08
PERBANKAN
Maraknya
pembangunan apartemen di tengah kota Jakarta, serta-merta ditanggapi bank
dengan menyalurkan kredit pemilihan apartemen (KPA). Meskipun menyalurkan KPA,
bank memiliki sejumlah pertimbangan.
BRI
CATATKAN OBLIGASI 500 JUTA DOLLAR AS
PT.
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk akhirnya menerbitkan surat utang sebesar
500 juta dollar AS. Obligasi berjangka waktu 5 tahun ini merupakan penawaran
Senior Unsecured Bonds dalam mata uang dollar AS yang dikeluarkan BRI di pasar
obligasi internasional. Setidaknya 165 investor memesan surat utang ini dengan
total nilai 2,65 miliar dollar AS pada masa penawaran. Dengan demikian, terjadi
kelebihan permintaan 5,3 kali.
Namun,
dengan jangka waktu obligasi 5 tahun, BRI memiliki kesempatan lebih besar untuk
menyalurkan kredit yang jangka waktunya lebih panjang. Berbeda dengan dana
pihak ketiga valas yang berjangka waktu lebih pendek.
PERTUMBUHAN
KPR MASIH TINGGI
Pertimbangan, masyarakat yang mampu
membeli rumah dengan kisaran harga tersebut umumnya cukup stabil. Akan tetapi,
masih jauh dari kemungkinan membeli rumah untuk spekulasi. Aturan Bank
Indonesia menyebutkan, uang muka KPR untuk rumah dengan luas lebih dari 70
meter persegi minimal 30 persen dari harga rumah.
Selain memasang target pertumbuhan
kredit pemilikan rumah (KPR) yang signifikan, bank juga menggeser sasaran harga
rumah. Meski demikian, bank juga berhati-hati menghadapi kondisi ekonomi
mendatang.
SWASTA
BISA BUKA BIRO KREDIT
Aturan perihal LPIP sudah di
terbitkan dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 15/1/PBI/2013. Rencananya, Bank
Indonesia akan menerbitkan surat eksternal, sebagai pedoman bagi swasta yang akan
mengajukan izin sebagai LPIP.
LPIP bisa menyediakan data
nonlembaga keuangan ini sehingga masyarakat yang selama ini belum tersentuh
lembaga keuangan bisa menjangkau layanan kredit. Misalnya, data pembayaran
tarif listrik. Syarat LPIP, swasta harus berbadanhukum Indonesia berupa
perseroan terbatas dengan modal disetor minimal RP 50 miliar. Maksimum kepemilikan
saham tiap pihak 51 persen.
Sumber
: Koran Kompas (Maret 2013 dan April 2013)
Minggu, 13 Januari 2013
Karakteristik dari Konsumen Indonesia (pada umumnya) dan Faktor yang Paling Mempengaruhi Perialaku Konsumen Indonesia
Karakteristik dari Konsumen
Indonesia (pada umumnya)
Indonesia memilki lebih
dari 220 juta penduduk dengan ratusan suku yang tersebar di berbagai
pulai.Sekalipun berbeda-beda suku dan bahasa,namun pasti ada kesamaan
karakter,yang bisa dijadikan patokan bagi para marketer untuk menjalankan
strategi marketing.10 karakter unik konsumen Indonesia bisa di jadikan
referensi yang pas untuk itu.Namun Anda harus hati-hati menyelami karakter ini.
·
Karakter dari konsumen Indonesia itu antara lain :
1. Berpikir jangka pendek
(short term perspective), ternyata sebagian besar konsumen Indonesia hanya
berpikir jangka pendek dan sulit untuk diajak berpikir jangka panjang, salah
satu cirinya adalah dengan mencari yang serba instant.
2. Tidak terencana (dominated by unplanned
behavior). Hal ini tercermin pada kebiasaan impulse buying, yaitu membeli
produk yang kelihatannya menarik (tanpa perencanaan sebelumnya).
3.Suka berkumpul.
Masyarakat Indonesia mempunyai kebiasaan suka berkumpul (sosialisasi). Salah
satu indikator terkini adalah situs social networking seperti Facebook dan
Twitter sangat diminati dan digunakan secara luas di Indonesia.
4. Gagap teknologi (not adaptive to high
technology). Sebagian besar konsumen Indonesia tidak begitu
menguasai teknologi tinggi. Hanya sebatas pengguna biasa dan hanya
menggunakan fitur yang umum digunakan kebanyakan pengguna lain.
5. Berorientasi pada konteks (context, not
content oriented). Konsumen kita cenderung menilai dan memilih sesuatu
dari tampilan luarnya. Dengan
begitu,konteks-konteks yang meliputi suatu hal justru lebih menarik ketimbang
hal itu
sendiri.
6. Suka buatan Luar Negeri (receptive to COO
effect). Sebagian konsumen Indonesia juga lebih menyukai produk luar
negeri daripada produk dalam negeri, karna
bias dibilang kualitasnya juga lebih bagus dibanding produk di indonesia
7. Beragama(religious). Konsumen
Indonesia sangat peduli terhadap isu agama. Inilah salah satu karakter khas
konsumen Indonesia yang percaya pada ajaran agamanya. Konsumen akan lebih
percaya jika perkataan itu dikemukakan oleh seorang tokoh agama, ulama atau
pendeta. Konsumen juga suka dengan produk yang mengusung
simbol-simbol agama
8. Gengsi (putting prestige as important
motive). Konsumen Indonesia amat getol dengan gengsi. Banyak yang ingin cepat
naik “status” walau belum waktunya. Saking pentingnya urusan gengsi ini,
mobil-mobil mewah pun tetap laristerjual di negeri kita pada saat krisis
ekonomi sekalipun. Menurut Handi Irawan D, ada tiga budaya yang
menyebabkangengsi. Konsumen Indonesia suka bersosialisasi sehingga mendorong
orang untuk pamer. Budaya feodal yang masihmelekat sehingga menciptakan
kelas-kelas sosial dan akhirnya terjadi “pemberontakan” untuk cepat naik
kelas. Masyarakat kita mengukur kesuksesan dengn materi dan jabatan
sehingga mendorong untuk saling pamer.
9. Budaya lokal (strong in subculture).
Sekalipun konsumen Indonesia gengsi dan menyukai produk luar negeri,
namun unsur fanatisme kedaerahan-nya ternyata cukup tinggi. Ini bukan
berarti bertentangan dengan hukum perilaku yang lain.
10. Kurang peduli lingkungan
(low consciousness towards environment). Salah satu karakter konsumen Indonesia
yang unik adalah kekurang pedulian mereka terhadap isu lingkungan. Tetapi jika
melihat prospek kedepan kepedulian konsumen terhadap lingkungan akan semakin
meningkat, terutama mereka yang tinggal di perkotaan begitu pula dengan
kalangan menengah atas relatif lebih mudah paham dengan isu lingkungan. Lagi
pula mereka pun memiliki daya beli terhadap harga premium sehingga akan lebih
mudah memasarkan produk dengan tema ramah lingkungan terhadap mereka.
·
Faktor yang Paling Mempengaruhi Perialaku
Konsumen Indonesia
Perilaku pembelian konsumen sebenarnya di
pengaruhi oleh faktor-faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Sedangkan
faktor yang paling berpengaruh dan paling luas dan paling dalam adalah faktor
budaya.
Menurut Kolter, Philip, Keller, Kevin Lane
factor yang mempengaruhi perilaku konsumen sebagai berikut :
Ø Faktor
Budaya
Budaya, sub-budaya, dan kelas sosial sangat
penting bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan
perilaku pembentuk paling dasar. Anak-anak yang sedang tumbuh mendapatkan
seperangkat nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku dari keluarga dan
lembaga-lembaga penting lainnya.
Masing-masing budaya terdiri dari sejumlah
sub-budaya yang lebih menampakkan identifikasi dan sosialisasi khusus bagi para
anggotanya. Sub-budaya mencakup kebangsaan, suku, agama, ras, kelompok bagi
para anggotanya. Ketika sub-budaya menjadi besar dan cukup makmur, perusahaan
akan sering merancang program pemasaran yang cermat disana
Ø Faktor
social
Selain faktor budaya, perilaku konsumen di
pengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok acuan, keluarga, peran,
dan status sosial. Kelompok acuan terdiri dari semua kelompok yang memiliki
pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang
tersebut. Keluarga meruapkan organisasi pembelian konsumen yang paling
penting dalam masyarakat dan para anggota keluarga menjadi kelompok acuan
primer yang paling berpengaruh. Peran dan status sosial seseorang menunjukkan
kedudukan orang itu setiap kelompok sosial yang ia tempati. Peran meliputi
kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang. Masing-masing peran
menghasilkan status.
Ø Faktor
pribadi
Keputusan membeli juga di pengaruhi oleh
karakteristik pribadi. Karakteristik tersebut meliputi usia dan tahap dalam
siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri, juga
nilai dan gaya hidup pembeli.
Ø Faktor
Psikologi
Titik awal untuk memahami perilaku konsumen
adalah adanya rangsangan pemasaran luar seperti ekonomi, teknologi, politik,
budaya. Satu perangkat psikologi berkombinasi dengan karakteristik konsumen
tertentu untuk menghasilkan proses keputusan dan keputusan pembelian. Tugas
pemasar adalah memahami apa yang terjadi dalam kesadaran konsumen antara
datangnya rangsangan pemasaran luar dengan keputusan pembelian akhir. Empat
proses psikologis (motivasi, persepsi, ingatan dan pembelajaran) secara
fundamental, mempengaruhi tanggapan konsumen terhadap rangsangan pemasaran.
Sedangkan menurut James F. Engel – Roger D
Blackwell-Paul W. Miniart dalam saladin terdapat tiga faktor yang mempengaruhi
perilaku konsumen yaitu :
1. Pengaruh lingkungan, terdiri dari budaya, kelas sosial, keluarga dan situasi. Sebagai dasar utama perilaku konsumen adalah memahami pengaruh lingkungan yang membentuk atau menghambat individu dalam mengambil keputusan berkonsumsi mereka. Konsumen hidup dalam lingkungan yang kompleks, dimana perilaku keputusan mereka dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut diatas.
2. Perbedaan dan pengaruh individu, terdiri
dari motivasi dan keterlibatan, pengetahuan, sikap, kepribadian, gaya hidup,
dan demografi. Perbedaan individu merupkan faktor internal (interpersonal) yang
menggerakkan serta mempengaruhi perilaku. Kelima faktor tersebut akan
memperluas pengaruh perilaku konsumen dalam proses keputusannya.
3. Proses psikologis, terdiri dari pengolahan
informasi, pembelajaran, perubahan sikap dan perilaku. Ketiga faktor tersebut
menambah minat utama dari penelitian konsumen sebagai faktor yang turut mempengaruhi
perilaku konsumen dalam penambilan keputusan pembelian.
Sumber :
Senin, 19 November 2012
PENGERTIAN & CONTOH DARI KONSUMEN INNOVATIVENESS, CONSUMER COMPULISIVE CONSUMPTION, DAN CONSUMER ETHNORCENTRISM
PENGERTIAN
& CONTOH DARI KONSUMEN INNOVATIVENESS, CONSUMER COMPULISIVE CONSUMPTION,
DAN CONSUMER ETHNORCENTRISM
CONSUMER
INNOVATIVENESS
Para pemasar seringkali berusaha untuk
mempelajari perilaku dari para consumer innovators, yaitu mereka yang selalu
menjadi yang pertama untuk mencoba hal-hal baru baik barang, jaa maupun
kegiatan-kegiatan baru. Tanggapan dari para innovator ini seringkali merupakan
gambaran mengenai akan sukses atau tidaknya suatu produk dipasaran.
Beberapa
karakteristik yang menentukan apakah konsumen seorang innovator atau bukan,
antara lain berikut ini.
a. Tingkat
keinovatifan
Tingkat keinovatifan konsumen dapat diukur
menggunakan instrument yang dibentuk oleh para peneliti, yang bersifat
fleksibel dalam domain kajiannya, misalnya untuk diterapkan pada kategori
produk yang luas(personal computer), subkategori produk (computer jenis
notebook) ataupun tipe produk (computer notebook mini beratnya 3 pound).
b. Dogmatisme
Dogmatisme merupakan karakteristik manusia yang
mengukur kekakuan atau rigidity dan keterbukaan yang ditunjukkan konsumen
terhadap informasi atau hal-hal baru yang kurang familiar atau yang tidak
sesuai dengan system keyakinan mereka. Konsumen dengan dogmatis tinggi akan
sulit menerima hal-hal yang tidak familiar dengan mereka. Penerimaan akan
dilakukan dengan rasa tidak nyaman dan tidak psti, sedangkan konsumen dengan
tingkat dogmatis merendah akan memiliki sikap terbuka terhadap hal-hal yang
kurang familiar atau tidak sesuai dengan system keyakinan mereka.
Implikasi tingkat dogmatisme yang dianut oleh
konsumen pada dunia pemasaran adalah konsumen dengan tingkat dogmatisme tinggi
seringkali dianggap sebagai konsumen dengan pandangan tertutup dan biasanya
memilih produk yang sudah lama ada, bukan produk-produk inovatif. Hal ini
bertolak belakang dengan konsumen dengan tingkat dogmatisme rendah
(berpandangan terbuka) yang lebih memilih produk-produk inovatif daripada
produk-produk tradisional. Oleh karena itu, dalam aspek komunikasi juga
dibedakan antara konsumen yang memiliki tingkat dogmatisme rendah dan yang
tinggi.
c. Karakter
sosial
Karakter sosial merupakan karakteristik
seseorang yang meliputi 2 titik ekstrem yaitu inner-directednessdan other-directedness.
Istilah yang pertama berarti konsumen cenderung menggunakan nilai-nilai maupun
keyakinan dalam dirinya sendiri dalam mengevaluasi produk, sedangkan
other-directedness mencerminkan karakteristik konsumen yang lebih
mempertimbangkan nilai-nilai atau petunjuk dari orang lain mengenai apa yang
benar dan apa yang salah dalam mengevaluasi produk. Biasanya
konsumen yang memiliki karakter inner-directedness memiliki
kemungkinan yang lebih besar dari pada other-directedness untuk
mengevaluasi suatu produk.
Dalam strategi komunikasi, konsumen
dengan inner-directedness cenderung menyukai iklan yang memuat
pesan-pesan mengenai kegunaan produk, fitur-fiturnya maupun keuntungan dari
penggunaan produk tersebut, sedangkan konsumen dengan other-directedness cenderung
lebih menyukai iklan yang menekankan pada citra yang ditampilkan oleh produk,
penerimaan oleh masyarakat apabila menggunakan produk tersebut, dan lain
sebagainya. Pada dasarnya, konsumen dengan other-directedness lebih
mudah untuk dipengaruhi dalam perilaku pembeliannya karena mereka sangat peduli
dengan apa yang dianggap benar atau salah oleh pihak lain.
Contoh
Kasus Consumer Innovativeness
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
metode deskriptif dan studi kasus, pada industri pengolahan rotan PT. Fairco
Agung Kencana pada bulan Januari sampai dengan Maret 2004. Data yang digunakan
meliputi data primer dan data sekunder. Teknik pengambilan contoh (responden)
dilakukan secara sengaja (purposive). Data hasil penilaian responden terhadap
indikator komponen teknologi dan indikator kemampuan teknologi diolah dengan
analisis Gap, dengan melihat perbedaan nilai pengamatan dan nilai yang
diharapkan perusahaan dari kedua indikator tersebut. Sedangkan dalam menentukan
alternatif strategi yang dilakukan di hitung dengan menggunakan PHA ( Proses
Hirarki Analitik).
Berdasarkan hasil penelitian, tingkat
kecanggihan perangkat komponen teknologi sudah sesuai dengan yang diharapkan
perusahaan, Pada pengkajian komponen technoware, yang harus diperhatikan adalah
pada tahapan QC amplas, sedangkan pada komponen Humanware yang lebih
diperhatikan adalah manajer dan maintenance karena pada pada level tersebut
bertugas sebagai penunjuk pelaksana di lapangan. Pada komponen Inforware yang
lebih diperhatikan adalah tingkat pembelian dan peningkatan informasi,
sedangkan komponen Orgaware gap terbesar terdapat pada divisi litbang dan pada
struktur organisasinya. Sedangkan kemampuan teknologi, yang harus diperhatikan
pada kemampuan Operatif, Akuisitif, dan Inovatif, gap yang diperoleh sebesar
-1.
CONSUMER COMPULSIVE
CONSUMPTION
Perilaku Konsumsi yang Kompulsif Konsumsi yang
kompulsif termasuk perilaku yang abnormal yang merupakan contoh ”sisi gelap
konsumsi”. Para konsumen yang kompulsif cenderung kecanduan; dalam beberapa hal
mereka tidak dapat mengendalikan diri, dan tindakan mereka dapat berakibat
merusak diri sendiri dan orang-orang di sekeliling mereka.
Contoh
Kasus Consumer Compulsive Consumption
Contohnya pada jeansLevi’s 501 adalah dapat
diandalkan dan kuat, sejati dan asli, dan orang Amerikadan orang Barat. Citra
merek yang mirip kepribadian seperti itu mencerminkan visi konsumen mengenai
intisari dari berbagai merek produk konsumen yang kuat.Personifikasi
MerkPersonifikasi merek yaitu berusaha menuangkan kembali persepsi konsumen
mengenaisifat-sifat produk atau jasa ”karakter manusiawi”. Banyak konsumen yang
menyatakan perasaan diri mereka mengenai produk atau merek menurut kepribadian
yang mereka kenal. Mengenali hubungan kepribadian merek konsumen sekarang ini
atau menciptakan hubungan kepribadian untuk produk baru merupakan tugas
pemasaran yang penting. Mr. Coffee, merek alat pembuat kopi yang populer dan
menetes secara otomatis menggambarkan hubungan konsumen-merek. Para konsumen
menyebut Mr.Coffee seolah-olah produk tersebut adalah seseorang. Jadi Mr.Coffee
dipandang sebagai seseorang yang dapat diandalkan, bersahabat, efisien, cerdas,
dan hebat. Ada lima dimensi yang menentukan kepribadian merek yaitu ketulusan,
kegairahan, kemampuan, kecanggihan, dan kekuatan, dan segi-segi kepribadian yang
mengalir dari tiap dimensi seperti ketulusan hati, keberanian, cerdas, dan
luwes. Kerangka inI cenderung menampung berbagai kepribadian merek yang dikejar
oleh berbagai produk konsumen.Kepribadian Produk Dan Gender Kepribadian produk
atau pesona sering melengkapi produk atau merek dengan gender. Pemberian gender
sebagai bagian dari gambaran kepribadian produk sesuai sekalidengan realitas
pasar bahwa produk dan jasa, pada umumnya dipandang oleh konsumen mempunyai
gender. Misalnya kopi dan pasta gigi merupakan produk maskulin, sedangkan sabun
mandi dan shampo dipandang sebagai produk feminin.Kepribadian Dan Warna
Konsumen tidak hanya mengaitkan sifat-sifat kepribadian ke produk dan jasa
tetapi mereka juga cenderung menghubungkan berbagai faktor kepribadian ke
berbagai warna khusus.
CONSUMER
ETHNOCENTRIM
Konsumen dengan etnosentrisme tinggi akan
cenderung memiliki perasaan bersalah apabila mengonsumsi produk dari luar
negeri karena berakibat buruk pada perekonomian bangsanya sendiri. Adapun
konsumen dengan etnosentrisme rendah tidak merasakan hal tersebut. Implikasinya
bagi pemasar adalah penggunaan penekanan pada aspek kebangsaan dalam penggunaan
produk dalam negeri bagi konsumen dengan tingkat etnosentrisme tinggi.
Etnosentrisme konsumen berasal dari konsep
psikologis yang lebih umum dari etnosentrisme. Pada dasarnya, orang etnosentris
cenderung memandang kelompok mereka sebagai superior dari orang lain. Dengan
demikian, mereka memandang kelompok lain dari perspektif mereka sendiri, dan
menolak orang-orang yang berbeda dan menerima orang-orang yang mirip (Netemeyer
et al, 1991;. Shimp & Sharma, 1987). Hal ini, pada gilirannya, berasal dari
teori-teori sosiologi sebelumnya di-kelompok dan keluar-kelompok (Shimp &
Sharma, 1987). Etnosentrisme, maka secara konsisten ditemukan, adalah normal
untuk kelompok-ke-keluar kelompok (Jones, 1997, Ryan & Bogart, 1997).
Etnosentrisme konsumen khusus mengacu pada
pandangan etnosentris yang diselenggarakan oleh konsumen di satu negara, dalam
kelompok, terhadap produk dari negara lain, keluar-kelompok (Shimp &
Sharma, 1987). Konsumen mungkin percaya bahwa itu tidak tepat, dan bahkan
mungkin tidak bermoral, untuk membeli produk-produk dari negara lain.
Pembelian produk asing dapat dipandang sebagai
tidak layak karena biaya pekerjaan domestik dan melukai ekonomi. Pembelian
produk asing bahkan dapat dilihat sebagai hanya patriotik (Klein, 2002;
Netemeyer et al, 1991;. Sharma, Shimp, & Shin, 1995; Shimp & Sharma,
1987).
Contoh
Kasus Consumer Ethnocentrism
Mudahnya ketika saya dan Metta sedang makan
siang dengan kecap, di mana orang-orang Indonesia suka kecap, beberapa teman
Taiwan memperhatikan kami, dan beberapa berkata, aneh. Saya diam, dan
kesimpulan yang saya ambil hanya satu, “orang2 Taiwan tidak makan dengan kecap,
atau kecap tidak biasa dimakan dengan nasi.” saya tidak sampai hati bilang
orang Taiwan aneh karena kami makan dengan kecap, karena toh apa bedanya saya
dengan mereka pada akhirnya?
Sama dengan kebiasaan mandi pagi hari yang
jarang dilakukan orang Taiwan. Awalnya saya kaget, tapi dengan itu saya belajar
kedepannya, hanya karena saya mandi setiap pagi bukan berarti tidak mandi itu
aneh. Karena seandainya saya bilang hal itu aneh, apalagi namanya kalau bukan
meninggikan diri sendiri dan menganggap semua yang tidak sama adalah lebih
rendah?
Sumber
:
Langganan:
Postingan (Atom)